Pertanyaan-Pertanyaan Seputar Menulis Puisi

Menulis Puisi, Bila saya bertanya perihal pengertian puisi pada teman-teman. Kemungkinan sudah paham semuanya, Karena kita tahu bila puisi itu
Menulis Puisi, Bila saya bertanya perihal pengertian puisi pada teman-teman. Kemungkinan sudah paham semuanya, Karena kita tahu bila puisi itu termasuk karya sastra yang bersifat indah dan tujuannya untuk dinikmati dan lain-lain.

Pertama, ada hal yang harus diubah dari mindset kita antara prosa dan puisi. Meski keduanya sama-sama sastra, tapi jelas beda ya.
Puisi itu memadatkan
Prosa itu menguraikan
Jadi puisi itu cenderung lebih ringkas, pendek dan padat. Puisi tidak masuk prosa fiksi ya. Karena prosa fiksi itu lebih ke cerpen Lalu,

Bagaimana sih cara menulis puisi ?

Jawabannya, kita harus tahu dulu kita ingin menulis karena apa. Bila alasannya ingin mengungkapkan peraasaan, ya tulis.
Sederhana sih, Dan sebenarnya saya juga termasuk tipe orang yang kalau ada hal-hal yang meresahkan saya, saya tulis. Alhasil jadi puisi.

Oh ya saya lupa, guru saya di waktu SMA pernah berkata bila menulis itu kurang lebih sama dengan mencintai, ia tidak cukup hanya diungkapkan tapi juga perlu usaha untuk dibuktikan.

Nah, untuk usaha dalam menulis yang paling besar, sepengalaman saya, adalah melawan rasa malas. Kalau sudah bisa melawan rasa malas, biasanya nulisnya ya lancar. Tapi sebelum menulis, setidaknya kita harus banyak baca. Harus ada riset. Entah itu tentang puisi, atau membaca karya-karya penyair. Jadi dengan membaca, kemungkinan bisa menulis. Lalu,

Bagaimana ?

kita semua harus tahu antara puisi lama dengan puisi baru,
Biasanya, saat ini masih banyak yang bertumpu pada puisi lama. Seperti satu bait tiga atau empat baris. Contoh konsepnya ke puisi lama, pantun, karima, gurindam, talibun, dll. Hal ini Jelas berbeda dengan puisi baru yang lebih bebas, tidak terikat.

Bahkan, puisi yang mendobrak munculnya puisi baru itu dilihat dari bentuknya (tipografi) bukan isi. Seperti puisi tragedi sihka dan winka. Yang mungkin di SMA teman-teman sudah mempelajarinya. Bentuknya zigzag. Namun, jangan salah. Puisi jenis ini (kontenporer) malah lebih dilirik.

Bila Jokpin (Joko Pinurbo) pernah bilang kalau menulis puisi ga harus ke hutan, ke gunung, ke laut semalaman, atau harus patah hati dulu. IaIu malah ga dapat apa-apa.  Kuncinya, hanya keinginan menulis atau tidak.  
Dan sayangnya, tidak semua orang bisa menumbuhkan keinginan menulis sekejab. Namun, lagi-lagi saya merekomendasikan pada teman-teman untuk tulis saja apa yang ada di kepala. Untuk urusan diksi biasanya akan mengalir, saat teman-teman banyak membaca.

Ini contoh puisi yang tidak terikat dengan bait.
Saya membuatnya di rumah.
Berimajinasi sesukanya.
Contoh puisi :
Hikayat Anak-Anak Pesisir
Karya: Nurul Fitriana
Di bibir Pulau Pekajang
Laut memanjang terbentang
Kuceritakan sajak ini dalam rekam jejak ketika angin berhembus ke dataran
Malam berselimut ombak membawa gigil pada kayu dan rotan di bangunan
Buihnya membawa butir pasir menuju pokok-pokok kelapa tua
Melahirkan puisi tentang anak-anak desa
Pagi sekali, ketika nelayan pulang membawa ikan
Anak-anak tak beralas berseragam merah putih berlari menuju dermaga
Menunggu bapak sebelum matahari naik sekepala
Siap melayarkan ilmu dan cita-cita
Dan menari di antara lautan luas
Membawa pesan bapak sebelum habis dilahap ombak
“Berlayarlah hingga kau menemukan makna kehidupan!”Seperti batu-batu karang, semangatnya mengakar dan mengeras di pagar lautan
Di sini, mimpi tak pernah mati meski tanpa telekomunikasi
Anak-anak meredam diri dengan mantra-mantra tradisi
Memandang kemiskinan dengan mata dalam keterasingan
Tiang bendera sekolah Pekajang masih kokoh menjulang
Sudahkah kita merdeka?
         Pekajang (Kepulauan Riau), 15 April 2020.

Adakah Tips tentang bagaimana menciptakan sebuah puisi yang didalamnya kata-kata nya yang begitu indah ?

Sebenarnya saat kita mencoba untuk menulis, sudah membuat puisi kita sarat maknanya. Jadi, kadang kita tak perlu memikirkan makna nya, sebab pembaca kita bisa menebak sendiri. Namun, bila menulis puisi ( tanpa memperdulikan apa yang ditangkap pembaca ) boleh-boleh saja.

Seperti puisi Joko Pinurbo. Ia memilih kata celana dalam puisinya. Bila kita pikir-pikir bukankah sesuatu hal yang lucu ? Dan tabu ?  Lalu, kata khong guan. Di sinilah keunikannya, berbeda dengan penyair lain. Dan ia membiarkan pembaca mengartikan sendiri puisinya. Berimajinasi.

Tips nya sederhana.

Misal, Nike ingin menulis tentang A, maka akan bermakna A. Kalau kata saya menulis itu kata kerja ( verba ) jadi kerjakanlah. Untuk kata-kata atau diksi yang indah ya. Lagi-lagi, saya menyarankan untuk membaca. Coba baca karya-karya Sutardji, Sapardi, Taufik Ismail.

Lalu, coba buat opsi kata.
Antara kata indah dan cantik.
Mana yang lebih pas untuk disanding dengan kata perempuan.

Bagaimana cara membuat puisi/ide nya mengalir begitu saja ? Dan apa tantangan bagi dalam menulis puisi ?

Untuk ide atau pilihan puisi, biasanya harus ada cause (penyebab).

Orang-orang cenderung membuat puisi untuk diikutsertakan dalam lomba. Sehingga berpaku pada tema. Benar kan?

Maka idenya harus sesuai dengan tema. Misalnya : Saat ini lagi gencar-gencarnya corona.

Bila orang-orang fokus pada kata corona. Kita bisa mengembangkan ide yang tidak ada kaitannya, lalu kita kaitkan. Maka akan lebih menarik. Contohnya:
Corona
Hari demi hari kau kian menyebar
Membuat kami gusar
Dan tak sabar
Jangan seperti ini. Karena sudah biasa. Kita bisa menambahkan metafor loh saat berpuisi.

Tantangan menulis bagi saya sendiri adalah rasa malas. Kadang otak dan tangan tak sejalan, jadi malas nulis. Caranya, saya memotivasi diri sendiri. Dari pada berdiam diri, lebih baik menulis. Entah itu satu kalimat, atau bahkan satu kata. Puisi gak harus panjang, contohnya : Ada puisi yang judulnya "Malam Lebaran" karya Sitor Situmorang.
Isinya hanya satu kalimat.
"Bulan di atas kuburan"
 Dan ini malah jadi populer dan dikaji oleh banyak penyair.

Sitor Situmorang dengan santai berkata bila ia menuliskannya saat ia hendak ke rumah Pramoedya Ananta Toer dan di perjalanan, ia melihat cahaya yang mengarah ke atas kuburan. Alhasil diabadikan dalam puisi.
Jadi idenya tiba-tiba saja. Malah sesuai dengan fakta.

Bagaimana juga cara memaknai karya puisi kontemporer ?

Untuk puisi kontemporer tentu sangat membantu berkembangnya jenis puisi. Secara tidak langsung, Sutardji, Danarto, lalu Remy Sylado (puisi mbling) memberikam warna baru dalam hal berpuisi.  Tipografi diutamakan. Hingga membuat muncul puisi-puisi dengam tipografi yang sangat beragaram. Sama hal nya buah, Musiman.

Bila di tahun sekian yang muncul puisi jenis A maka akan banyak pengikutnya. Seolah-olah jadi hipogram. Danan puisi kontemporer nyatanya sudah suruh untuk masa sekarang.

Tapi, setidaknya kemunculan puisi kontemporer mengubah mindset kita tentang puisi satu bait empat baris ya. Puisi danarto bahkan bukan ditulis dari huruf. Melainkan kotak sembilan.

Lalu, bagaimana cara memaknai puisi kontemporer. Misalnya karya Sutardji O Amuk Kapak. Hal ini tentu sulit yaa. Saya juga meski di jurusan bahasa Indonesia tetap merasa kesulitan saat diminta mengartikan. Namun, dosen saya pernah berkata bila cara memaknainya sederhana. Cukup dengan merasakan bagaimana Sutardji menuliskannya.

Saat ia menuliskan tentu melibatkan ekspresi batin dan jiwanya.

Bacalah, terka makna
Bila tidak bisa, tangkap apa yang kita lihat.